Dari Desa untuk Perubahan: Membangun Agent of Change melalui Pemberdayaan BUMDes Wetana. Penguatan Kapasitas BUMDes Wetana melalui Pendekatan Sistematis dan Kolaboratif-Inisiatif BINUS University dan Mitra NGO Internasional
Program pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Wetana, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menjadi wujud nyata kolaborasi antara BINUS University dengan SurfAid Indonesia dan Yayasan Selancar Arungi Indonesia sebagai mitra NGO internasional dan lokal. Inisiatif ini dimulai sejak September 2025 dan direncanakan berlangsung hingga akhir 2026, dengan tujuan memperkuat kapasitas pengelolaan usaha desa berbasis potensi lokal. Program ini sekaligus menjadi bagian dari persembahan dalam menyambut Lustrum ke-45 BINUS University, sebagai refleksi komitmen institusi dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Tim dosen dan mahasiswa BINUS yang berasal dari BINUS Business School (Doctor of Research in Management), Business School Undergraduate Program, Master Management, serta mahasiswa S1 Akuntansi, berkontribusi secara pro bono dengan fasilitasi penuh dari pihak NGO. Melalui delapan kali kunjungan lapangan dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, tim melakukan asesmen partisipatif bersama pengelola BUMDes dan masyarakat desa. Dari proses ini terungkap bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya pada aspek teknis pengelolaan usaha, tetapi juga pada kebutuhan akan perubahan cara pandang—dari sekadar menjalankan aktivitas menjadi mengelola usaha secara sadar, terarah, dan berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim BINUS merancang dan mengimplementasikan sistem bisnis terstruktur melalui pengembangan Kertas Kerja, Jadwal Kerja, dan Alur Kerja (KJA) sebagai alat manajemen yang terintegrasi. Sistem ini kemudian diujicobakan dalam kegiatan hortikultura dengan metode tumpang sari untuk komoditas cabai, tomat, dan buncis. Implementasi dimulai pada Januari 2026 dan telah menghasilkan panen pertama dan kedua pada April 2026.
Selain implementasi di lapangan, proses pendampingan ini juga melahirkan sebuah Buku Manual operasional yang memuat KJA dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disusun secara kontekstual. Buku ini tidak lahir dari pendekatan top-down, melainkan dari proses interaksi, pembelajaran bersama, dan pengalaman nyata di lapangan—di mana pengetahuan akademik dan kearifan lokal bertemu, diuji, dan disempurnakan menjadi panduan kerja yang aplikatif dan berkelanjutan.
Di balik seluruh proses tersebut, tumbuh benih-benih perubahan—ketika para pengelola BUMDes mulai memposisikan diri sebagai agent of change, yang tidak hanya bekerja untuk hari ini, tetapi membangun harapan untuk masa depan. Di tanah yang penuh keterbatasan, semangat untuk maju justru menemukan maknanya. Setiap langkah kecil, setiap catatan kerja, hingga setiap hasil panen menjadi simbol ketekunan dan keyakinan bahwa perubahan itu mungkin. Meskipun masih banyak yang perlu disempurnakan, capaian awal ini menunjukkan arah yang jelas: dari keterbatasan menuju kemandirian. Program ini mencerminkan komitmen BINUS University dalam mewujudkan nilai fostering and empowering society, tidak hanya melalui transfer pengetahuan, tetapi juga melalui penumbuhan harapan dan keberanian untuk berubah.
- Tentang Mitra Kolaborasi

SurfAid Indonesia merupakan organisasi non-pemerintah (NGO) internasional yang telah lama berfokus pada peningkatan kesehatan, gizi, dan ketahanan pangan masyarakat di wilayah terpencil Indonesia, termasuk Sumba.
Sementara itu, Yayasan Selancar Arungi Indonesia adalah entitas lokal yang mendukung implementasi program SurfAid di Indonesia, khususnya dalam pemberdayaan komunitas berbasis keberlanjutan.Kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergi antara dunia akademik dan organisasi global dalam menjawab tantangan pembangunan desa.
- Pendekatan Program: Dari Asesmen ke Implementasi
Tim dosen dan mahasiswa BINUS University yang terdiri dari berbagai program—BINUS Business School (Doctor of Research in Management), Business School Undergraduate Program, Master Management, serta mahasiswa S1 Akuntansi—berpartisipasi secara pro bono, dengan fasilitasi penuh dari pihak NGO.
Pendekatan yang dilakukan meliputi:
– Kunjungan langsung ke desa (8 trip selama ±1,5 tahun)
– Diskusi partisipasif dengan dengan pengelola BUMDes untuk memahami tantangan riil
– Asesmen kebutuhan bisnis dan operasional
Hasil asesmen menunjukkan bahwa bUMDes Watena masih menghadapi tantangan dalam:
– Struktur pengelolaan usaha
– Perencanaan operasional
– Dokumentasi dan kontrol bisnis
- Solusi: Sistem Bisnis Terstruktur melalui KJA
Menjawab kebutuhan tersebut, tim bINUS merancang dan mengimplementasikan sistem kerja terintegrasi berbasis:
– Kertas Kerja – sebagai dasar perencanaan
– Jadwal Kerja – sebagai panduan waktu operasional
– Alur Kerja (KJA) – sebagai sistem proses bisnis end-to-end
Ketiga instrumen ini menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola usaha BUMDes yang lebih sistematis, terukur, dan keberlanjutan.
- Implementasi Nyata: Hortikultura Tumpang Sari

Sebagai pilot project, sistem KJA diterapkan pada usaha pertanian hortikultura dengan metode tumpang sari, meliputi:
– Cabai
– Tomat
– BuncisImplementasi dimulai pada Januari 2026, dan telah menghasilkan:
– Panen pertama dan kedua pada April 2026
Hasil panen menjadi indikator awal bahwa pendekatan berbasis sistem dan pendampingan insentif mulai menunjukkan dampak positif.
- Refleksi Lapangan: Harapan yang Tumbuh
Kunjungan lanjutan tim BINUS bersama mahasiswa ke lapangan untuk melakukan evaluasi menunjukkan bahwa:
– Masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki
– Namun, perubahan signifikan mulai terlihat dalam cara kerja dan hasil produksiPanen cabai dan tomat bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga simbol dari:
Proses belajar, kolaborasi, dan transformasi yang sedang berlangsungRasa haru dan bangga dirasakan oleh seluruh pihak yang terlibat—baik masyarakat desa, tim NGO, maupun akademisi.
- Komitmen Berkelanjutan
Program ini mencerminkan nilai “Fostering and Empowering Society” yang menjadi komitmen BINUS University dalam menciptakan dampak nyata di masyarakat.Melalui sinergi lintas sektor—akademisi, NGO internasional, dan komunitas lokal—program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas BUMDes Wetana, tetapi juga menjadi model pemberdayaan desa yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.
Melalui sinergi lintas sektor—akademisi, NGO internasional, dan komunitas lokal—program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas BUMDes Wetana, tetapi juga menjadi model pemberdayaan desa yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia.

